BUNGA YANG TAK AKAN LAYU

PIN

Oleh: Uchenk

Suatu waktu.
Dini hari sebelum subuh, bu Endang sudah bangun. Menyalakan kompor, memasak air, menyiapkan sarapan buat suami dan anak-anak, berbenah. Lalu mandi dan berdandan.

Usai subuh, ia bergegas mengejar angkot menuju stasiun, sebelum kereta tiba. Seperti biasanya, ia tidak ingin datang terlambat di sekolah. Apalagi hari ini.

Di waktu yang sama, pak Agus menstater sepeda motornya. Meskipun hujan rintik, tidak menghalangi perjalanannya ke sekolah. 25 Kilometer dari rumahnya. Seperti biasa, sebelum muridnya berdatangan. Apalagi hari ini.

Pagi itu juga, pak Eman, penjaga sekolah, membersihkan halaman dan mempersiapkan alat upacara. Serapih dan sebaik mungkin. Apalagi hari ini.

Ini Hari Guru Nasional, upacaranya istimewa. Pak Mudi guru PKn, menjadi komandan upacara. Sigap, gagah, dan lantang suaranya. Membuat suasana hidmat dihari ini.

Selesai upacara, berebutan para murid memberikan setangkai bunga pada gurunya. Bu Endang mendapatkan dari Intan. Dipeluknya Intan, muridnya itu. Matanya berkaca-kaca.

Ia membayangkan anak muridnya yang lalu. Yang memberikan setangkai bunga. Yang telah bertebaran di antero negeri. Antero bumi. Yang menebarkan kebaikan. Menebarkan kemakmuran.

Kebaikan itu tak akan pernah sirna. Menyirami setangkai bunga. Yang tak akan pernah layu. Tertanam dalam sanubari.

Intan dan murid lainnya, adalah bunga di hati bu Endang. Mereka akan tumbuh dan berkembang. Kelak, akan menaburkan “bunga” di pusaranya. Harumnya semerbak. Bertebaran, sampai di surga.

Selamat Hari Guru Nasional

πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ

You May also Like
HABITUS
Melipat Kertas
Medali Kedamaian

Leave Your Comments