Menjemput Asa

PIN

Oleh: Uchenk

Anak itu membereskan tumpukan kardus, diikat, ditimbang, lalu dimasukkan ke dalam gerobak. Sudah hampir penuh isinya. Keringatnya mengalir, wajahnya melegam terbakar matahari.

Pandangannya menelisik ke sudut tumpukan rongsokan gelas plastik air mineral, mencari bapaknya. Buat berpamitan. Mengantarkan barang hasil bapaknya memulung, ke tauke bandar lapak barang bekas.

Sepulang dari lapak, dia membuka tas, mengambil buku tulis. Kemudian pergi ke rumah saudaranya. Untuk mencatat dan mengerjakan tugas dari sekolah yang dikirim oleh guru melalui HP milik saudaranya. Berjalan kaki yang jaraknya cukup jauh, namun hanya itulah cara agar dia bisa terus ikut belajar.

Anak bertubuh kecil itu pelajar di sebuah sekolah menengah. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya serta seorang kakak dan seorang adik. Bapaknya yang sehari-harinya memulung barang bekas dan ibunya buruh cuci rumah tangga, hanya mampu mengontrak satu ruangan sebagai tempat berteduh, ditambah ruang kecil kamar mandi.

Kakaknya belum memiliki pekerjaan tetap, adiknya masih bersekolah di SD. Satu-satunya pemilik HP di rumah itu hanya kakaknya. Maka buat keperluan belajar di musim pandemi ini, HP kakaknya itu menjadi tumpuan dia dan adiknya. Sayangnya HP itu sering dibawa pergi oleh kakaknya untuk mencari pekerjaan.

Tak mau putus asa karena kesulitan gawai buat belajar, dia mendatangi sekolahnya. Bermohon agar bisa mengikuti pembelajaran langsung di sekolah setiap harinya. Para guru trenyuh. Berpatungan membelikannya sebuah HP. Plus kuota internet dari dana yang tersedia.

Sekarang anak itu bisa menyambung asa. Menapaki harapan. Dan menjemput mimpinya. Terima kasih para guru.

πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ

You May also Like
BUNGA YANG TAK AKAN LAYU
HABITUS
Melipat Kertas
Medali Kedamaian

Leave Your Comments