Menjadi Angka

PIN

Oleh: Uchenk

Hari minggu siang, seusai bepergian, kami membeli sop buat makan di rumah. Anak saya yang paling besar, Kiki, ada di rumah, tidak ikutserta.

Sampai di rumah makanan dihidangkan oleh istri. Kami makan bareng. Kiki ikutan. Kuah sop kami ambil bergantian.

Setelah itu, saya istirahat sebentar. Kiki menuju ke kamarnya di lantai atas. Tak lama terdengar derap langkah kiki menuruni tangga dengan cepat. Memanggil nama saya dengan suara keras. Saya terkejut. Belum hilang rasa kaget saya, kiki menyampaikan, bahwa hasil tes swab di kantornya pada hari Kamis sebelumnya, yang diterima melalui WA, menyatakan dia positif terinfeksi Covid-19.

Badan saya langsung lemas, mata berkunang. Tamu yang menakutkan itu, yang asalnya dari negeri Tiongkok itu, akhirnya singgah di rumah kami. Saya kuatkan hati, ambil tindakan. Kiki kami tempatkan di ruangan atas. Gak boleh turun. Semua perlengkapan ada disana, termasuk kamar mandi.

Saya segera berkoordinasi dengan pusat layanan kesehatan (Yankes). Oleh karena kami tercatat sebagai warga Depok, berdasarkan penjelasan petugas Yankes, prosedur isolasinya tetap berada di rumah. Besok pagi bisa konsultasi dengan puskesmas terdekat.

Malam itu sungguh saya tidak bisa memejamkan mata. Setiap jam saya perhatikan keadaan istri dan anak. Tengah malam saya WA Kiki, tanya kondisinya. Dijawabnya sehat saja. Sudah berlalu tiga hari dari waktu tesnya.

Senin pagi, saya tanyakan ke puskesmas setempat, kapan kami bisa tes swab dan siapa yang mengawasi keluarga kami, khususnya Kiki. Diberitahu kalau mau tes swab harus daftar dulu, dan baru bisa dilaksanakan hari Kamis. Sayalah yang diminta melaporkan kondisi kesehatan keluarga. Artinya, semua orang saat ini sedang sibuk dengan pandemi ini, uruslah yang bisa diurus sendiri. Pun menyiapkan segala vitamin untuk meningkatkan imunitas diri. Mungkin itu yang dimaksud dengan isolasi mandiri.

Saya putuskan melakukan tes swab mandiri di RSUI. Dan tetap di rumah aja. Hasilnya baru diketahui dua hari kemudian. Dua hari yang terasa sangat panjang untuk menantikan kepastian. Apalagi malamnya putri kecil saya, Hana, mengeluh pilek. Saya sentuh keningnya, suhunya normal saja. Tak ayal, setiap jam saya sentuh keningnya.

Alhamdulillah hasil tes swab negatif. Keadaan kami sekeluarga juga sehat wal afiat. Demikian juga dengan Kiki, yang tidak merasakan gejala apa pun, setelah sepuluh hari dari waktu tes swab. Malahan dia curiga hasil tesnya gak valid. Tetapi saya gak mau spekulasi. Semua prosedur kesehatan Covid-19 kami patuhi.

Setiap kali ada rekor penambahan kasus Covid-19, saya selalu posting di medsos. Mengingatkan agar kita selalu hati-hati. Menjaga protokol kesehatan. Itu juga belum menjamin kita bebas dari hempasan pagebluk ini.

Anak saya mungkin telah menjadi satu angka tambahan kasus itu. Menjadi pelajaran buat kami. Untuk tetap dispilin dan bertawakal.

πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ

You May also Like
Melipat Kertas
Medali Kedamaian
Semakin Mendekat
Rapuh

Leave Your Comments