Green Zone

PIN

Oleh: Uchenk

Terheran-heran saya ketika tiba di bumi Laskar Pelangi, pulau Belitung. Masyarakat beraktivitas seperti biasa. Di jalan, lalu lalang kendaraan. Hampir tidak ada pengemudinya yang menggunakan masker. Meski pun ditepi jalan masih ada baliho yang mengingatkan penggunaan masker, tapi itu sudah usang. Buram dan koyak.

Saat tiba di bandara Tanjung Pandan, saya dan keluarga diminta untuk mengisi aplikasi. Isinya tempat tujuan dan asal kedatangan, serta keluhan penyakit yang dirasakan. Bila ada. Keperluannya untuk tracking perjalanan penumpang. Sebelumnya di bandara Soekarno Hatta, kami diminta menunjukkan surat tanda bukti rapid tes. Semua itu clear buat kami.

Diperjalanan kami juga menemui para pelajar yang beraktivitas di sekolahnya. Berseragam dan menenteng tas.

Tiba di pemakaman bibi kami, para pelayat ramai berkumpul. Pun tak ada yang bertopeng masker. Hanya saya dan keluarga.

Sore hari, saya menyempatkan berkeliling pantai bersama putri saya, Hana. Jaraknya hanya sepelemparan batu dari rumah almarhumah bibi. Di salah satu sisi pantai ada keramaian. Ratusan orang duduk dihamparan rumput taman pantai. Berhimpitan. Tak ada jarak. Di depan mereka tersedia panggung. Sedang ada lomba karaoke antar kampung. Lagunya mendayu, enak dijogetin.

Malam hari, tahlilan di rumah almarhumah bibi, penuh sesak dengan orang yang takziah. Laki-laki dan perempuan. Saling bersalaman. Do’a dilantunkan dengan suara keras tanpa memakai topeng. Hidangan setelahnya dilahap habis, gak lagi membasuh tangan.

Malam mulai temaram, saya menelusuri kota Manggar. Yang terkenal dengan ikon, Kota 1001 Warung Kopi. Bertebaran warung kopi seantero sudut kota. Bahkan sampai pedalaman kampung. Bangku-bangku di warung kopi dan kafe itu, terisi penuh. Oleh orang-orang yang kongkow dan bersenda gurau. Ada juga yang menampilkan musik live. Sekedar sajian organ tunggal atau band akustik.

Tidak ada jarak, tidak ada topeng. Semua berjalan (new) normal. Seperti sebelum ada pandemi.

Esoknya di pagi hari, sebelum terang tanah, saya mengunjungi warkop Atet. Langganan saya bila ke Manggar. Yang ada tulisannya “Belum ke Belitong kalau belum ngopi di warkop ini.” Pun sudah penuh dengan orang-orang yang segera akan memulai pekerjaannya. Pedagang di pasar, pekerja kantoran atau para nelayan. Kopi seduhan tradisional, tanpa mesin. Rasa dan takarannya pas. Gak terganggu resesi, akibat pandemi Covid-19.

Pulau Belitung sudah zona hijau. Sampai saat ini, tidak ada lagi kasus orang terinfeksi virus corona.

Sungguh suasana yang ngangeni. Paling tidak selama enam bulan ini. Semoga juga segera terjadi. Di seluruh pelosok negeri.

πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ

You May also Like
Bangkit, Melewati Batas Mimpi
STUDI KE WELLINGTON 6
STUDI KE WELLINGTON 5
STUDI KE WELLINGTON 4
STUDI KE WELLINGTON 3
STUDI KE WELLINGTON 2

Leave Your Comments