PhD

PIN

Oleh: Uchenk

Susah payah saya menyelesaikan masa kuliah pertama. Setelah 2 tahun menganggur selepas SMA, saya mencoba menyemangati diri untuk belajar lagi. Ikut seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Karena ketiadaan biaya, saya memilih jurusan yang ada beasiswanya.

Beruntung dikesempatan terakhir mengikuti seleksi PTN, nama saya tertera sebagai peserta yang diterima di Program Diploma 3 Fakultas MIPA Universitas Indonesia, jurusan Fisika. Kami kemudian menggelari jurusan kami itu dengan akronim PhD. Bukan Phylosofi Doctor, tetapi maksudnya Physics Diploma.

Kuliah di Program tersebut zonder bea alias gratis dan dikasih uang saku. Lulusannya langsung diangkat menjadi guru PNS. Ditempatkan di daerah Sumatera dan Jakarta. Crash Program pemerintah saat itu untuk memenuhi kekurangan guru MIPA, khususnya di jenjang SMA.

Karena sempat jeda belajar, saya berusaha keras untuk memahami materi kuliah. Untunglah saya punya teman-teman yang sangat membantu.

Dalam suatu mata kuliah yang sulit, dari sekitar 30 mahasiswa, ada 16 orang yang harus mengulang ujian (istilahnya her), karena nilainya tidak tuntas. Saya ada di antaranya. Setelah dilakukan her, masih ada 6 orang termasuk saya yang harus her lagi. Hasil her akhir, semuanya lulus, kecuali saya.

Tentu saya bersedih, namun gak boleh putus asa. Dengan semangat saya menemui dosen yang mengampu mata kuliah itu. Memohon diberi kesempatan lagi. Sebab bila saya tidak lulus mata kuliah itu, saya bisa terdegradasi. IPK saya mengkhawatirkan.

Bu dosen yang sudah tua itu sangat bijak. Masih berbaik hati. Saya hanya diminta mengerjakan soal ujian yang lalu. Dan menjelaskannya pada beliau. Boleh meminta bantuan pada teman.

Bergegas saya menemui teman-teman yang sedang berkumpul. Saya minta diajarin. Rasa solidaritas dan kasihan pada saya, mereka membantu.

Setelah selesai, saya ajukan pada dosen. Saya jelaskan proses mendapatkan hasil dari pengerjaan soal. Bu dosen memperhatikan dengan seksama. Rupanya beliau senang dan hanya memastikan bahwa saya sudah mengerti benar materi kuliah yang diajarnya. Dengan tersenyum, beliau memberi nilai C. Cukuplah buat lulus.

Teman-teman saya ikut senang. Kemudian kami berkumpul di tempat kos salah satu teman. Hidangan yang tersedia adalah buah pepaya. Sebagai rasa terima kasih, saya menyediakan diri untuk mengupas buah pepaya itu.

Setelah buah pepaya terkupas, saya cuci di kamar mandi. Yang letak antara bak air dan lubang WC nya bersebelahan. Saat saya bilas dengan air, buah pepaya terlepas dari tangan, dan meluncur ke lubang WC. Saya panik. Karena gak mau mengecewakan teman yang telah membantu, saya bilas berkali buah pepaya itu dengan air. Kemudian saya sajikan ke teman-teman.

Teman-teman saya lahap memakannya. Bilang rasanya manis. Saya sendiri tidak makan. Sudah dihabisi oleh mereka.

Teman-teman Phd, terima kasih telah membantu saya. Hari ini kita berkangen ria, meski secara virtual. Mohon maaf atas peristiwa terceburnya buah pepaya ke lubang WC. Jangan muntah dan jangan misuh. Pleaseβ€¦πŸ˜ŠπŸ˜Š

πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ

You May also Like
Melipat Kertas
Medali Kedamaian
Semakin Mendekat

Leave Your Comments