Terus Bergulir

PIN

Pertengahan Mei 2006, saya dihubungi oleh seorang teman yang tinggal di Bantul Yogyakarta. Obrolan ringan, menyapa bagaimana kabar. Teman saya menawarkan penginapan di rumahnya bila saya berkunjung ke Yogya. Rumahnya baru saja selesai dibangun. Dari foto yang dikirim ke saya, rumah barunya itu, besar dan megah. Pasti cukup besar biaya yang dikeluarkan untuk pembangunannya.

Akhir bulan Mei 2006, terjadi gempa besar yang melanda Yogyakarta. Salah satu daerah paling parah adalah Bantul. Beberapa hari komunikasi terputus. Saat saya berhasil menghubungi teman saya itu, dia sedang berada di tempat pengungsian. Rumah barunya luluh lantak, rata dengan tanah.

Pada awal pembicaraan, teman saya memang sempat menunjukkan rasa kecewa. Namun saya masih mendengar derai tawanya. Teman saya bilang, alhamdulillah, yang penting dia dan keluarganya selamat dari musibah itu. Harta bisa dicari lagi. Akhir nada suaranyanya, yang terdengar adalah semangat. Hidup harus terus bergulir.

Beberapa hari yang lalu, saya dapat postingan di group medsos, yang menggambarkan kekecewaan fans fanatik dari klub sepakbola Liverpool. Setelah menanti 30 tahun, sebenarnya Liverpool diambang juara. The Reds julukan Liverpool, hanya membutuhkan dua kemenangan lagi untuk bisa meraih gelar juara liga Inggris tahun ini. Hingga pekan ke-29, Liverpool sudah mengoleksi 82 poin dan berjarak 25 angka dari Manchester City di peringkat kedua.

Bayangkan kekecewaan fans militannya The Reds. Mereka menunggu. Ada yang dari usia remaja. Ada yang bahkan sudah punya cucu. Gelar juaranya terancam batal, gegara wabah corona. Yang menghentikan Premier League.

Tetapi salah satu penggemar The Reds menyampaikan, bahwa tidak boleh putus semangat. Selama Liverpool masih bermain bola. Selama bola terus bergulir.

Ipik, supir saya, baru saja merintis usaha. Malam hari berjualan nasi gule dipinggir jalan raya Depok-Sawangan. Sedang semangatnya, karena pelanggannya mulai banyak. Tetiba dihantam badai wabah Corona, hingga satu malam, tidak satupun pelanggan yang datang.

Ipik pun menutup jualannya. Saya menepuk pundaknya. Bila badai usai, saya akan bantu berjualan lagi. Ipik nyengir seperti biasanya.

Badai ini memang luar biasa menghantam. Entah kapan akan berujung.

Baru saja saya membaca berita, sebanyak 139.288 pekerja di Jakarta terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) atau dirumahkan. Bisa jadi akan lebih banyak lagi. Padahal, sebentar lagi lulusan sekolah menengah, khususnya SMK, sebagian akan mencari pekerjaan.

Pun demikian, para pekerja harian, pedagang kecil, ojek online, sudah kehilangan tempat kerja atau langganan. Dampak ekonomi yang tidak bisa diabaikan.

Saatnya kita berbagi. Harta, penganan, sandang, apa pun itu. Untuk saudara-saudara kita yang kurang beruntung.

Kita masih mengharapkan senyum dan derai tawa mereka, seperti semangat teman saya di Bantul. Semangat fans The Reds. Harapan si Ipik.

Sembari menjaga diri dan berdoa selalu, semoga musibah ini segera berakhir. Hidup ini terus bergulir.

πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ
uchenk

You May also Like
Melipat Kertas
Medali Kedamaian
Semakin Mendekat

Leave Your Comments