KALENG KHONG GUAN

PIN

(Uchenk)

Pada jamannya biskuit Khong Guan populer sebagai penganan hidangan di meja tamu. Apalagi di saat lebaran. Menjadi kebanggaan sajian tuan rumah. Ada kesan mewah kalau tersedia biskuit Khong Guan.

Sebenarnya isi kaleng Khong Guan yang paling banyak dicari adalah biskuit waffer. Yang cuma tersedia 2 bungkus, dan terletak paling bawah. Alhasil bila anak-anak berebutan mencari biskuit waffer, maka biskuit lainnya hancur. Jadi kepingan. Gak menarik lagi. Tinggallah remukan biskuit Khong Guan yang bertahan sampai 3 bulan setelah lebaran.

Seiring dengan waktu, peran kemewahan biskuit Khong Guan mulai tersingkirkan. Oleh berbagai kue-kue modern. Ada kue nastar, cheese stick, kastangel, putri salju, lidah kucing, dll. Dengan berbagai merk atau buatan sendiri.

Namun demikian, nama Khong Guan sudah menjadi legenda. Sehingga kaleng Khong Guan tetap tersedia di meja tamu. Hanya jangan kecele, bila kita buka, isinya belum tentu biskuit waffer. Boleh jadi isinya adalah rengginang atau rempeyek.

Yang tidak berubah dari kaleng Khong Guan, adalah gambar keluarga yang sedang menyantap biskuit di meja makan. Seorang ibu, dengan dua anaknya. Minus kehadiran seorang ayah. Konon, sang ayah sedang berkelana. Waktu foto itu dibuat.

Karena itu, seorang lelaki yang pulang mudik dengan membawa kaleng Khong Guan, mungkin saja itu tanda kerinduan pada keluarganya di kampung. Kayak bang Thoyib yang gak pulang-pulang.

Lain halnya dengan pak Joko. Dulu waktu mudik, bangga benar membawa sekaleng biskuit Khong Guan. Buat oleh-oleh si mbah. Tentu mbahnya sangat senang menerima oleh-oleh mewah tersebut. Dan ketika pak Joko kembali ke Jakarta, si mbah memberikan oleh-oleh balik.

Beras sekarung, gula jawa sekeranjang, ayam 2 ekor, rengginang mentah satu plastik, pete dalam ikatan besar, dan kue bakar satu toples. Semuanya dibawa balik pak Joko di sepeda motornya.

Tekor dah si mbah… 😁😁😁

You May also Like
Melipat Kertas
Medali Kedamaian
Semakin Mendekat

Leave Your Comments