Berdamai Dengan Keadaan

PIN

Saya terlahir dari keluarga yang kurang mampu. Pekerjaan bapak hanya supir biskota. Tetapi untuk urusan makan, meski pun dengan menu apa adanya, belum pernah kami mengalami kesulitan, sampai tidak makan seharian. Apalagi berhari-hari. Ada saja yang bisa kami makan di dapur.

Untuk kebutuhan sekolah anak-anaknya, emak mengambil pekerjaan dari konfeksi pakaian. Membuat lubang kancing dan menjahitkan kancingnya. Serupiah demi rupiah, dikumpulkan emak. Bila ada lebihan uang, dibelikan beras. Itulah tabungan yang menjamin pasokan makanan kami.

Ketika mengajar di daerah pemukiman padat, saya tidak pernah menemui murid saya yang kekurangan makan. Pernah ada seorang murid yang ketahuan tidak pernah jajan, karena orangtuanya tidak mampu memberikan uang jajan, teman-temannya atau saya yang mentraktir jajanan di kantin sekolah.

Saya juga pernah blusukan ke kampung-kampung di kota Manggar, Pulau Belitung. Suatu kali saya menemui satu keluarga yang kehidupannya sangatlah sederhana. Perabotan di rumah itu semuanya kusam. Rumah berlantai tanah, berdinding papan, atap dari daun sirap. Tidak ada televisi di rumah itu. Tetapi mereka juga bukan orang yang kelaparan. Mereka masih bisa mencari sisa-sisa timah dari tambang rakyat yang banyak bertebaran di bumi Belitung. Untuk dijual, lalu uangnya dibelikan makanan. Atau bisa ikut nelayan, mencari ikan di laut yang terhampar luas mengelilingi Pulau Belitung.

Beberapa hari yang lalu, karena ada keperluan, saya menyusuri Jakarta. Dari balik kaca mobil, saya melihat taksi-taksi yang berjejer, parkir di sepanjang ruas jalan utama. Para sopir hanya duduk berteduh di kursi-kursi yang tersedia di trotoar. Raut wajahnya lesu, penuh harap akan adanya penumpang.

Di sisi lainnya, nampak antrian angkot yang kosong melompong. Sepi dari penumpang. Ada juga para biker ojek online yang duduk di atas motornya. Memandangi terus HPnya, kalau-kalau ada orderan masuk. Sebentar kemudian, mengelap wajahnya dan bertopang dagu dengan tatapan yang hampa.

Di perempatan lampu merah, terlihat pedagang asongan mainan anak-anak, duduk di pinggiran trotoar. Sambil mempermainkan barang dagangannya. Sekejap saat lampu merah menyala, ia berlari ke arah dua mobil yang berhenti di depan mobil saya. Tak satu pun penumpang mobil itu yang tertarik dan membuka kaca jendelanya. Pedagang itu berjalan gontai. Saya membuka jendela, memanggilnya. Saya sodorkan uang padanya. Sekedar pelipur lara.

Saya berlalu, memandang jauh ke depan. Menghembuskan nafas dalam, mengelus dada, beristighfar, berdoa agar wabah ini segera berakhir.

Semoga mereka adalah orang-orang yang tabah. Menjemput rezeki, untuk memberikan makan keluarga mereka hari ini, dan mungkin besok. Walaupun harus berdamai dengan keadaan. Tetap bekerja. Menunggangi gelombang pagebluk yang entah kapan akan menepi.

πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ
Oleh: Uchenk

You May also Like
Melipat Kertas
Medali Kedamaian
Semakin Mendekat

Leave Your Comments