Nikmat Mana Lagi…

PIN

Sebelum pandemi Covid-19, nyaris saya tak pernah bercakap dengan putri saya, Hana. Setiap harinya, saya berangkat kerja dia belum bangun tidur. Pulang kerja, dia sudah tidur. Paling saat hari Sabtu dan Minggu atau hari libur, saya bisa ngobrol dengan dia. Itu pun bila saya tidak ada kegiatan atau bepergian keluar kota.

Di masa pendemi ini, dengan opsi bekerja dari rumah, hampir setiap hari saya bisa berbincang dengan peri kecil saya itu. Meninabobokan tidurnya.

Pengalaman saya itu, saat ini dialami juga oleh banyak keluarga lain. Berkumpul dan bercengkrama dengan seluruh anggota keluarga. Beribadah barengan dan diwaktu sekarang, bisa berbuka puasa bersama.

Baru saja saya menonton acara konser amal “Satu Indonesia” di televisi. Di awal acara ditampilkan seorang perawat, seorang ibu. Dalam satu scene, ditayangkan bagaimana ibu itu melayani pasien dengan telaten. Termasuk mengajarkan pasien olahraga senam.

Sebegitu sibuknya si ibu dalam melayani pasien Covid-19 yang semakin bertambah, sudah 3 bulan dia tidak bertemu keluarganya. Bertemu dengan suami dan anak-anaknya yang tinggal di kota lain.

Disamping kesibukan melayani pasien, kalau pun pulang ke rumah, dia harus menjalani isolasi mandiri. Tentunya dia tidak ingin membawa wabah untuk keluarganya. Sebelum waktu isolasi habis, mungkin dia sudah harus kembali bekerja. Melayani pasien. Itulah mengapa dia memutuskan tetap berada di Rumah Sakit.

Untuk mengobati rasa kangen, dia melakukan video call pada suami dan dua orang anaknya yang masih kecil-kecil. Mengharukan menyaksikan tayangan senda gurau mereka lewat fasilitas video call.

Sosok ibu yang hebat. Berkerja dengan ikhlas, meski harus menahan rasa rindu teramat dalam pada keluarga yang dicintainya.

Bandingkan dengan kita, yang setiap hari bisa berkumpul dengan keluarga. Hikmah keadaan ini, boleh jadi menguntungkan buat kita.

Sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat itu, kesungguhan dan keikhlasan dalam bekerja, adalah amal bakti pengabdian dan rasa terima kasih kita kepada Yang Maha Kuasa. Kesungguhan untuk menghilangkan ketidaktahuan pada anak-anak didik kita. Menyirnakan kebutaan mereka pada literasi kehidupan.

πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ
Oleh: Uchenk

You May also Like
Melipat Kertas
Medali Kedamaian
Semakin Mendekat

Leave Your Comments