Optimisme dalam Kesedihan

PIN

Entah mengapa, belakangan saya gandrung dengan lagu-lagu jawa campursari. Terutama lagu yang dinyanyikan oleh Didi Kempot. Langgam jawa yang saya dengar selama ini terkesan iramanya lambat mendayu. Hanya beberapa lagu sepengetahuan saya yang nadanya sedikit menghentak, seperti lagunya Koesplus, Rek ayo rek atau Tul Jaenak yang populer itu.

Semenjak mendengar lagu-lagu Lord Didi, sebutan untuk Didi Kempot dari para penggemarnya yang dilabeli Sobat Ambyar, saya ikutan asyik mendengarkan lagu Jawa campursari. Meskipun kadang kurang paham arti liriknya, toh bisa digoogling di internet. Yang penting ritmenya riang, mirip lagu dangdut. Asyik dijogeti.

Padahal lirik lagu-lagunya Didi Kempot melankolis. Bercerita tentang patah hati dan hancurnya perasaan, akibat ditinggalkan kekasih. Setting kisahnya pun diberbagai tempat. Ada yang meratapi stasiun kereta, terminal bis, pelabuhan, pantai atau nama suatu lokasi. Sepertinya jika Didi Kempot berada di gurun pun, akan tercipta lagu sedih patah hati disitu.

Lagu sedih tapi dijogeti. Ini memberi gairah pada sobat ambyar yang sebagian besar berasal dari kalangan bawah. Kaum PK3P. Pekerja Keras Penghasilan Pas-Pasan. Meskipun penggemarnya saat ini menembus berbagai kalangan, termasuk kaum milenial, golongan PK3P mendominasi.

Tengok saja lagu stasiun balapan, cidro, ambyar, kalung emas, atau yang sangat ngehits, pamer bojo. Lagu yang berkisah tentang luka hati ditinggalkan kekasih. Sewaktu show di panggung, bahkan ada penonton yang menangis tersedu menghayati liriknya. Akan tetapi, tetap saja dia berjoget.

Mendengarkan lagu Didi Kempot layaknya melakukan meditasi. Setelah selesai, ada semangat baru untuk menjalani hidup. Keserdahanaan yang dimiliki kaum PK3P. Lelah, sedih, patah hati, gak punya duit, dengarkan saja lagu Didi Kempot. Jogeti, hilang resah dan gelisah.

Kebersahajaan dan kepedulian Lord Didi diapresiasi banyak kalangan. Keserdahanaan penampilan dan gaya bicara disukai orang. Kepedulian terhadap sesama telah dibuktikan dengan konser amalnya di sebuah stasiun TV. Lewat konser daring dari rumah, Didi Kempot berhasil mengumpulkan donasi sebesar 7,6 milyar rupiah. Yang hasilnya disumbangkan untuk penanganan wabah Covid-19 di tanah air. Jumlah uang yang nilainya sangat banyak, untuk sebuah konser yang tidak menghadirkan penonton secara langsung. Bisa jadi rekor terbesar yang tak akan terpecahkan oleh artis nasional lainnya.

Fenomena populer Didi Kempot dan lagu-lagu campursarinya, membuat saya tergabung dalam komunitas Sobat Ambyar Mako 54. Angka 54, karena kelompok ini dipelopori oleh pak Marsono, guru SMAN 54 Jakarta. Seorang fans berat Didi Kempot.

Untuk menjiwai bagaimana menjadi Sobat Ambyar, setiap hari saya putar lagu-lagu Didi Kempot. Mengikuti syair dan musiknya, terkadang berkaraoke. Untuk menghilangkan rasa penat dan menghibur diri dari kegalauan. Di hati dan pikiran.

Saya tidak pernah menangisi kematian pesohor, apalagi seorang artis. Tetapi berita wafatnya The Godfather of Broken Heart-Didi Kempot, membuat saya lama tertegun diam. Bersedih hati. Ada bulir airmata di kelopak mata. Kesan saya pada almarhum sangat mendalam.

Tidak ada lagi sosok yang menjadi pelipur lara. Yang membangun optimisme dalam kesedihan. Yang memberikan semangat menghadapi kesulitan hidup dimasa pandemi corona. Yang selalu berkata, “ora usah sedih, ayo dijogeti..!”

Sugeng tindak mas Didi Kempot. Karyamu menjadi kenangan yang terindah.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu.

πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ
by: Uchenk

You May also Like
Melipat Kertas
Medali Kedamaian
Semakin Mendekat

Leave Your Comments