Gak Boleh Lengah

PIN

Hana, putri bungsu saya belajar di rumah, selama darurat covid-19 ini. Dari bangun pagi, gak berhenti aktivitasnya. Mulai sholat subuh, nonton TV, mandi, terus mengerjakan tugas belajar dari gurunya yang dikirim melalui media sosial ke hp mamanya.

Mamanya sendiri tidak kalah repotnya. Selain melayani Hana dalam belajar, dia juga harus memasak dan memenuhi asupan konsumsi kebutuhan keluarga. Selama kami “dirumah aja”, mamanya Hana memang harus multitasking. Bisa mengerjakan banyak hal dalam waktu berbarengan. Apalagi Hana, bila ada jeda waktu di antara tugasnya, maka ia melompat, menari, bernyanyi, berteriak, melemparkan barang, yang bikin rumah jadi berantakan. Pekerjaan tambahan mamanya, untuk merapihkan dan menenangkan keadaan.

Kalau hari berjalan normal, mamanya Hana lebih banyak waktu luang. Selain memasak, kegiatan rutinnya mengantar dan menjemput Hana sekolah. Selebihnya bersosialisasi dengan para tetangga. Sementara itu anggota keluarga yang lain, termasuk saya, sedari pagi sudah berangkat kerja. Dan baru kembali malam hari.

Pada hari normal, pekerjaan rumah lainnya, dikerjakan oleh bu Umi yang membantu di rumah. Selama musim covid-19, bu Umi kami minta untuk “dirumah aja”. Jadi saat ini memang lebih heboh dalam mengurus rumah tangga.

Saya membayangkan bila hal ini terjadi pada para perempuan yang bekerja. Khususnya guru. Di samping melayani tetek bengek kebutuhan rumah tangga, ibu guru juga harus melayani para muridnya yang belajar di rumah.

Mulai mempersiapkan bahan ajar, menyetel alat komunikasi belajar, mengabsen murid, menyampaikan pembelajaran, menjawab pertanyaan, melakukan evaluasi, dan berkoordinasi dengan pimpinan unit kerjanya.

Belum lagi termasuk melayani siswa yang terlambat bangun tidur, yang malas-malasan di rumah, atau lagi sakit. Bahkan untuk mengumpulkan para siswa supaya siap belajar saja, butuh waktu yang lama. Tidak seperti di kelas, ketika bel berbunyi, siswa sudah siap di bangkunya masing-masing. Pada keadaan sekarang, memang dibutuhkan ketelatenan dan kesabaran tingkat dewa.

Ibu guru yang cantik dan baik hati, juga bapak guru yang gagah, tetaplah semangat dalam pengabdian. Jangan pernah luntur karena keluh kesah para orangtua yang meminta bapak/ibu untuk melayani putra/putrinya lebih baik.

Jadikan pesan para orang tua itu sebagai pengingat, bahwa kita tidak boleh lengah dalam melayani anak-anak kita. Seperti kita tidak boleh lengah membiarkan anak-anak berada di luar rumah. Pada situasi yang masih membahayakan jiwanya. Juga orang lain.

Insya Allah barokah. Gusti Allah mboten sare.

πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ
uchenk

You May also Like
BUNGA YANG TAK AKAN LAYU
HABITUS
Melipat Kertas
Medali Kedamaian

Leave Your Comments