Bagian Dari Sejarah

PIN

Pagi hari tanggal 15 Mei 1998, saya bersama dengan istri dan kiki, anak saya yang baru berusia 3 tahun, tiba di Jakarta. KM. Lawit yang kami tumpangi dari pulau Belitung melemparkan sauhnya dan merapat di Pelabuhan Tanjung Priok.

Setelah turun, kami kesulitan mencari kendaraan tumpangan menuju tempat tinggal kami, yang saat itu masih mengontrak di bilangan Tebet. Taksi yang biasanya banyak berjejer, kali itu sedikit sekali. Menjadi rebutan penumpang. Terpaksa kami naik ojek motor untuk mencari angkutan lain di terminal bis Tanjung Priok.

Masih ada bis yang beroperasi. Kami pun naik bis bersama tas dan beragam oleh-oleh dari Kampung.

Suasana sepanjang jalan sepi. Padahal hari itu adalah hari kerja. Saya melihat orang-orang hanya berkerumun. Kesibukkan acara di Belitung dan 24 jam perjalanan, membuat saya kurang update terhadap informasi. Saya menguping dari penumpang lain, bahwa baru saja terjadi kerusuhan pasca penembakkan mahasiswa Universitas Trisakti, ketika mereka berdemo di depan kampusnya.

Kami turun dari bis, masih jauh dari rumah. Untung ada taksi melintas dan mau membawa kami ke tujuan.

Sampai di rumah, segera saya nyalakan TV. Melihat berita. Ternyata sudah terjadi kerusuhan yang meluas. Disertai dengan penjarahan. Alhamdulillah kami sudah sampai rumah. Seandainya belum, mungkin terjebak dan harus berjalan kaki.

Hari berikutnya, para mahasiswa berdemo. Besar-besaran. Menduduki gedung DPR/MPR. Menuntut reformasi. Saya menonton di TV. Buncah perasaan saya melihat semangat adek-adek mahasiswa. Ingin rasanya membantu perjuangan itu. Bukan dengan ikut berdemo. Kalau berdoa, pastilah.

Saya kumpulkan teman-teman, tetangga sekitar. Terjadi kesepakatan antar kami untuk membantu para mahasiswa itu dengan logistik makanan. Kami pun mengumpulkan sumbangan buat membeli nasi bungkus. Setelah terkumpul, nasi bungkus itu kami distribusikan sendiri pada para mahasiswa yang berdemo di gedung DPR/MPR.

Tuntutan mahasiswa akhirnya tercapai. Orde reformasi tiba, sebagai bagian dari sejarah bangsa ini.

Saya tersenyum kecil. Bangga, meski pun hanya dengan sebungkus nasi. Saya merasa menjadi bagian dari sejarah itu.

Hari ini, ibu pertiwi sedang lara. Didera wabah virus corona. Kita saksikan banyak pribadi yang rela. Mengabdi demi keutuhan negara.

Para dokter dan tenaga medis yang bekerja keras menyelamatkan pasien. Berperang melawan virus, tanpa mengenal lelah.

Para guru yang ikhlas mempersiapkan bahan ajar dan kegiatan belajar jarak jauh. Melayani para muridnya yang sedang belajar di rumah. Agar mereka tidak berkeliaran di luar rumah. Yang memungkinkan terpapar oleh virus. Yang membahayakan jiwanya. Juga orang lain.

Bapak dan ibu guru, anda adalah pahlawan. Bagian dari sejarah, yang akan memenangkan perang ini. Melalui kegiatan belajar yang menyenangkan. Yang dilakukan saat ini.

Saya juga mau ikut ambil bagian. Saya akan belikan makanan. Untuk pengemudi ojek online. Ketika memesan makanan secara online.

Mereka dan beberapa pekerja lain, tentunya sangat terpukul dengan kondisi seperti ini. Layanan sepi, sementara kebutuhan hidup keluarga mereka tidak boleh berhenti. Kita bisa berbagi.

Saya bersyukur, masih diberi kesempatan bisa berbuat kebaikkan. Diusia yang bertambah. Yang semakin menua.

Semoga kita semua selalu sehat dan bahagia. Berarti bagi sesama. Sebagai bagian dari sejarah kehidupan kita.

πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ
uchenk

You May also Like
BUNGA YANG TAK AKAN LAYU
HABITUS
Melipat Kertas
Medali Kedamaian

Leave Your Comments