Lari Duluan, Tapi Gak Menang

PIN

Ketika audiensi dari Dinas Pemuda dan Olahraga ke Dinas Pendidikan, ikutserta rombongan dari beberapa induk olahraga. Salah satunya cabang olahraga sepakbola. Membawa seorang atlitnya yang berusia masih sangat muda. Tristan Alif Naufal nama anak muda itu. Umurnya baru 15 tahun.

Tristan sempat memperagakan keterampilannya dalam “menjugling” bola. Keren banget. Dia bisa mengolah bola di kakinya. Di ruang sempit sekalipun. Di depan meja rapat. Tepuk tangan membahana.

Sang pelatih, menceritakan potensi Tristan. Dikatakan bahwa Tristan memiliki kemampuan bermain bola sekelas Messi. Maka yang diperlukan adalah menjalani pelatihan, yang tepat dan konsisten.

Menurut pelatih, Tristan memang dijaga menjalani pelatihan sepakbola sesuai prosedur pemain bola internasional. Bertahun hanya latihan dribel, jugling, menahan bola, dan berlari meliuk, berlatih tanpa bola.

Berbeda benar dengan latihan pemain bola antar kampung (tarkam). Yang langsung menendang dan berlari membawa bola secepatnya.

Jika pemain bola ala “tarkam” bermain di daratan eropa, maka para pemuda bule, murid sekolah sepakbola ternama disana, terbengong melihat performa para pemain Indonesia itu. Para atlit “tarkam” tanah air sepertinya akan menjadi juara. Karena langsung berlari dan menendang bola dengan secepatnya.

Tapi kemampuan itu tidak berkembang. Penguasaan teknik dan gaya bermain sepakbola menjadi monoton. Pada kompetisi pertandingan sebenarnya, malah jadi pecundang.

Sebaliknya para anak muda di eropa, berlatih bola seperti latihan Tristan. Perlahan, bertahap, dan siap menghadapi pertandingan.

Dalam pembelajaran, pun demikian. Proses belajar sangat penting. Bertahap dan mengendap. Sampai siap menghadapi ujian dalam kehidupan senyatanya.

Semoga saja Tristan kelak bisa menggantikan seorang Messi. Jadi ikon dan legenda sepakbola dunia.

πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ
uchenk

You May also Like
BUNGA YANG TAK AKAN LAYU
HABITUS
Melipat Kertas
Medali Kedamaian

Leave Your Comments