Budaya Jujur

Pagi subuh tadi saat baru keluar rumah, hendak berangkat kerja, saya melewati dagangan nasi uduk mpok Umi. Dagangan nasi uduk beserta lauknya ditinggalkan begitu saja oleh mpok Umi. Mungkin dia lagi mengambil perlengkapan dagang lainnya di rumah.

Supir saya menoleh dan bergumam, “kok itu dagangan dibiarin aja, nggak dijagain. Ntar gorengannya diambil orang tuh..!”

Sambil tersenyum saya menyanggah, “masak sih, sampai ada orang yang tega kayak gitu.”

Tapi kemudian, saya malah kepikiran dengan kekuatiran supir. Bisa saja kejadian seperti itu sering disaksikan atau didengar olehnya. Andai benar, wow…!

Ketika saya di New Zealand minggu lalu, salah satu teman kami, bu Leny, ketinggalan HPnya. Terjatuh saat makan di restoran yang ramai dikunjungi orang. Disadari setelah esok hari.

Lusanya, bu Leny baru sempat menanyakan hal tersebut ke Restoran. Miracle, HP itu ada. Utuh. Menurut petugas resto diserahkan oleh pengunjung lain yang makan disitu.

Jika peristiwa itu terjadi disini, boleh jadi HP bu Leny benar-benar hilang. Gorengan saja dikuatirkan oleh supir saya.

Ayo, berperilaku jujur. Dan tanamkan nilai kejujuran sejak dini pada anak-anak kita. Supaya tumbuh menjadi ciri budaya bangsa. Demi kebersamaan hidup yang lebih nyaman.

??????
uchenk

You May also Like
BUNGA YANG TAK AKAN LAYU
HABITUS
Melipat Kertas
Medali Kedamaian

Leave Your Comments