STUDI KE WELLINGTON 6

PIN

Hari Keenam

Hari ini merupakan perjalanan resmi terakhir kami di Wellington NZ. Tujuannya adalah ke kantor KBRI di New Zealand dan beberapa tempat yang menjadi iconnya kota Wellington.

Berangkat pukul 09.30, kami tiba kantor KBRI pukul 09.45. Lebih awal 15 menit dari perjanjian kunjungan. Lokasi KBRI New Zealand di 70 Glen Road, Kelburn, Wellington. Bangunannya tidak terlalu luas. Dalam satu komplek perumahan, berdampingan dengan rumah warga Wellington. Tidak jauh dari kawasan Botanical Garden. Yang kemarin kami kunjungi.

Sambil menunggu waktu, kami berfoto ria. Di bagian luar gedung. Yang ada lambang-lambang negara RI. Di bawah patung burung Garuda, bendera Merah Putih, dan di depan plakat tanda kantor KBRI. Simbol bahwa negara RI eksis disini.

Setelah ada kontak antara bu Niely Sungkar dengan staf Kedubes, kami dipersilahkan masuk ke dalam. Ruangan pertama adalah ruang Papua. Dinding dan ornamen di ruang itu bernuansa daerah Papua. Kami bertemu dan diterima dengan ramah oleh bu Adek serta staf Kedubes lainnya. Pak Dubes, Tantowi Yahya belum datang.

Oleh bu Adek, kami diajak masuk ke dalam. Melewati koridor yang menghubungkan ruangan pertama dengan ruang-ruang lainnya. Sebelah kanan koridor, ada ruang khusus. Disatu dinding, tergantung foto seluruh Presiden RI. Dari Presiden Soekarno sampai dengan foto Presiden Joko Widodo. Dinding lainnya, tergantung foto seluruh Dubes RI di New Zealand. Mulai Dubes pertama, sampai foto dubes pak Tantowi Yahya.

Tidak lama kemudian, pak Dubes Tantowi datang. Kami semua diterima di ruang tamu yang bernuansa Sumatera Selatan. Ruangannya luas, menyatu dengan ruangan bernuansa Jawa Tengah. Kami duduk di kursi berukuran besar. Yang memiliki ukiran indah, khas tanah air.

Pimpinan rombongan, ibu Maria Qibtya, yang juga Kepala BPSDM Prov. DKI Jakarta, menjelaskan maksud dan tujuan kami datang ke Wellington. Serta institusi dan sekolah-sekolah yang sudah kami datangi. Bu Maria juga memperkenalkan kami semua pada pak Dubes.

Dalam sambutannya yang ramah dan penuh keakraban, pak dubes menyampaikan bahwa senang bertemu dengan kami. Berharap dapat memperoleh manfaat dari kunjungan ini.

Sebelum beliau melanjutkan sambutannya, saya ijin bertanya, perihal nama beliau yang sempat beredar di Medsos. Yang ada dalam jajaran kabinet presiden Jokowi, menjadi salah satu menteri. Saya menanyakan, apakah pak Jokowi menelepon beliau terkait hal itu. Pak dubes Tantowi tertawa lebar, sambil berseloroh bilang, bahwa pak Jokowi memang meneleponnya, tetapi mengatakan, agar pak Tantowi tenang-tenang saja di Wellington. Kami pun tertawa mendengarkan itu. Humor yang berkelas.

Pak Dubes kemudian menerangkan perihal KBRI yang membawahi wilayah New Zealand serta Kepulauan Samoa dan kerajaan Tonga. Jumlah penduduknya hanya sekitar 5 juta jiwa, tetapi jumlah dombanya sebanyak 35 juta. Tujuh kali lipat banyaknya dari jumlah penduduk.

Hubungan antara RI dan New Zealand sangat baik. Ada sekitar tujuh ribu WNI di seluruh New Zealand. Beliau berterima kasih pada WNI yang ada disini. Tidak merepotkan, justru membanggakan karena berprestasi. Ada yang bekerja di perusahaan, di pemerintahan, dan sektor lainnya, serta juga para pelajar. Hal ini tentu meningkatkan nama baik Indonesia.

Setelah sambutan pengantar tersebut, bu Maria bertanya pada pak dubes Tantowi. Apa rahasia kesuksesan beliau. Menjadi presenter, penyanyi, pengusaha, sampai menjadi dubes. Pak dubes tersenyum mendengar pertanyaan itu.

Pak Dubes bercerita, yang menyebabkan karir seseorang meningkat itu ada dua faktor. Faktor pertama adalah karena kita banyak tahu. Dengan banyak tahu berbagai hal, pimpinan akan merasa nyaman dengan kita. Maka bila ada kesempatan, pimpinan akan memprioritaskan kita untuk dipromosikan.

Bagaimana untuk menjadi banyak tahu. Menurut beliau dengan banyak membaca. Pak dubes Tantowi rajin sekali membaca. Sewaktu masih mahasiswa di Sekolah Tinggi Pariwisata NHI Bandung, beliau sudah menjadi duta baca. Beliau juga menceritakan, bahwa pemenang hadiah terbesar acara “Who Want a Millionare” yang pernah dibawakan oleh beliau, adalah loper koran. Ternyata sang loper rajin sekali membaca, sehingga bisa menjawab seluruh pertanyaan.

Faktor ke dua yang membuat orang sukses adalah pertemanan. Menurut beliau, temanlah sebenarnya mempromosikan kita. Dari pertemanan yang baik, kelihatan karakter kita dan kemampuan kita yang sesungguhnya. Ini ilmu yang luar biasa dari pak Dubes.

Tentang membaca, saya juga menyampaikan perihal gerakan literasi sekolah yang saat ini sedang digalakkan. Beliau menyambung, kegiatan membaca saat ini perlu dilakukan juga melalui berbagai media. Termasuk melalui media HP.

Saya menyela, sambil bercanda saya bilang, kalau istri di rumah rajin membaca di HP, bisa berabe urusannya. Suami lebih tenang ketinggalan dompet daripada ketinggalan HP. Kalau HP sampai dibaca oleh istri, “kelar hidup loe..!”???

Pak Dubes tergelak mendengar guyonan saya. Tetapi kemudian beliau menimpali. Kalau ada lelaki seperti itu, ibarat seorang lelaki yang sedang bercermin. Dipikirnya dia itu singa, ternyata pantulan cerminnya adalah kucing, mengeong. Teman saya pak Diding tersenyum kecut mendengar lelucon pak Dubes…???

Sebelum pamitan, kami foto bersama dengan pak Dubes. Di ruang Bali. Di depan lukisan kayu. Yang bercerita tentang kisah Ramayana. Yang dipahat sangat detail. Eksotik, indah, dan mengagumkan. Seperti halnya kami yang kagum dengan pak Dubes Tantowi Yahya. Yang ramah, santai, cerdas dan humble. Menjadi idola banyak orang.

Kami melanjutkan perjalanan mengunjungi gedung Parlemen New Zealand. Gedung yang megah. Bentuknya seperti sarang tawon.

Gedung Parlemen New Zealand terbuka untuk umum. Hanya perlu registrasi. Selanjutnya kita bisa melihat-lihat suasana gedung, dan menonton film sejarah parlemen dan apa yang dilakukan oleh parlemen saat ini. Hebat, gedung parlemen ini bisa menjadi ikon wisata. Ramai turis yang berkunjung.

Setelah makan siang, kami bergegas menuju masjid untuk melaksanakan ibadah sholat Jum’at. Waktu sholat Jum’at di Wellington pukul 13.30. Mesjid tempat sholat kami juga merupakan Islamic Center di Wellington.

Kami bertemu dengan berbagai umat muslim dari berbagai belahan dunia. Terbanyak adalah warga keturunan arab. Kami juga bertemu dengan beberapa orang warga Indonesia yang telah menetap di Wellington. Mereka saling mengenal satu sama lainnya. Pun akrab dengan bu Niely Sungkar. Perempuan muslim di Wellington ikut bermakmum sholat Jum’at. Khutbah shalat Jum’at menggunakan bahasa Inggris.

Usai sholat Jum’at kami bertemu lagi dengan Dr. Martyn Reynolds. Pria periang yang mengajar kami pada workshop di hari pertama. Pertemuan kami dilakukan di ruang rapat suatu gedung yang memang disewakan khusus. Banyak juga orang yang menyewa untuk bekerja secara perorangan. Disitu disewakan meja-meja kerja yang dilengkapi dengan koneksi internet dan fasilitas lainnya. Ada juga kafe yang menyediakan minuman kopi dan sejenisnya. Gratis, tetapi tidak ada yang melayani. Susana ruangan sangat nyaman. View luarnya, pemandangan cantik laut Wellington.

Dr. Martin memberikan sertifikat pelatihan pada kami. Dan salam perpisahan. Dia juga mengajarkan do’anya orang Maori. Sebelumnya kami diajarkan juga lagu orang Maori. Yang menambah literasi kebudayaan kami.

Dari tempat itu, kunjungan kami selanjutnya adalah museum Te Papa. Museum kebanggaan warga Wellinton dan New Zealand.

Masuk ke museum gratis. Tidak dikenakan biaya tiket. Gedung museum berlantai enam. Setiap lantai menyuguhkan karya atau tampilan yang memikat.

Ada diorama kisah peperangan dalam bentuk empat dimensi. Perlengkapan perang dan patung orang dibuat besar sekali, menyerupai bentuk aslinya. Bisa disentuh. Demikian pula dengan suara-suara yang diperdengarkan. Persis suasana keadaan perang.

Di lantai berikutnya ada museum tentang lingkungan hidup dan sains. Berbagai flora dan fauna yang tumbuh di New Zealand. Semuanya dibuat begitu nyata dan interaktif. Saya memasuki rumah replika simulasi gempa bumi. Di dalamnya ada Televisi yang memutar film tentang kejadian gempa bumi. Saat tejadi gempa, rumah replika itu juga bergoyang. Perkakas di dalamnya ikut bergoyang. Di TV ditunjukkan bagaimana kita mengamankan diri bila terjadi gempa. Penuh sensasi. Juga edukasi.

Di bagian lain terdapat ruangan yang memajang alat peradaban suku Maori. Perahu, perkakas berburu, pakaian, dan replika rumah adat suku Maori yang ukurannya sesuai aslinya.

Di lantai terakhir terdapat museum seni. Karya seni kontemporer yang dibuat oleh para seniman New Zealand dipamerkan disitu. Sangat artistik dan elegan. Seluruh karya di museum ini indah dan mempesona. Pantaslah bila museum ini dinobatkan menjadi salah satu museum terbaik di dunia.

Cukup melelahkan perjalanan hari ini. Kami pun kembali ke hotel. Sebelum istirahat, saya menyempatkan menuliskan setiap perjalanan. Sementara teman saya satu kamar, pak Sarwoko sudah terlelap.

Tengah malam, HP pak Sarwoko berdering keras. Pak Sawoko kaget, terbangun. Mengangkat HP. Istrinya menelepon. Menanyakan keadaan pak Sarwoko.

Malam kemarin anaknya juga menelepon. Tengah malam, saat pak Sarwoko juga sudah tidur. Anaknya minta pak Sarwoko membantu PRnya. Mata pelajaran bahasa Inggris.

Saya tersenyum geli. Alasannya kok remeh ya. Saya jadi kepikiran, jangan-jangan itu cuma alasan istrinya untuk tahu kelakuan pak Sarwoko. Bila malam hari, terpisah dari keluarga. Nggak dipercaya kayaknya nih. Saya kira pak Sarwoko itu singa. Ternyata kucing juga. Meong…?????

Alhamdulillah perjalanan kami rampung sudah. Sesuai dengan tujuan. Tinggal berbagi dan diskusi. Mengadaptasi apa yang telah kami pelajari dalam implementasi pendidikan di tanah air.

Masih ada sisa waktu besok. Sebelum kembali ke tanah air. Kami berencana mengunjungi wilayah pedesaan di sekitar Wellington. Melihat suasana desa dan kehidupan masyarakatnya.

Mamanya Hana ngechat WA melulu. Kangen katanya. Kalau tidur, gak ada yang nemenin.

Ok my baby. I’am coming home. Dengan membawa setumpuk rindu. Dan sekoper pakaian kotor…

???

uchenk

You May also Like
Bangkit, Melewati Batas Mimpi
STUDI KE WELLINGTON 5
STUDI KE WELLINGTON 4
STUDI KE WELLINGTON 3
STUDI KE WELLINGTON 2

Leave Your Comments