STUDI KE WELLINGTON 5

PIN

Hari Kelima

Pada hari kelima, rencananya kami akan berkunjung ke Wellinton College. High School terbaik disini. Namun kami baru bisa diterima di sekolah tersebut pukul 14.30.

Cuaca cukup cerah. Sambil menunggu waktu, oleh pemandu kami, mbak Niely Sungkar, kami diajak naik cable car. Saya membayangkan, itu semacam cable car di Genting Highland Malaysia.

Dari hotel kami keluar pukul 10.00. Menuju station cable car di Lambton Quay. Jarak dari hotel sekitar 1,5 Km, ke arah utara. Tetapi pagi hari jalan agak macet, kendaraan kami memerlukan waktu tempuh kira-kira 10 menit.

Posisi stasiun menyatu dengan gedung-gedung bisnis di wilayah itu. Setelah membeli tiket, kami masuk gerbang dengan mengetap tiket di mesin. Seperti bila kita naik KRL di Jakarta.

Ternyata cable car Wellington, bukan kereta gantung seperti di Genting Highland, Taman Mini, atau Ancol. Tapi mirip gerbong kereta yang ditarik kabel, dengan penggerak mesin dinamo listrik.

Arah kereta yang ditarik kabel itu menanjak terus, dengan sudut kurang lebih 45 derajat. Tempat duduk penumpang, saling bertolak belakang. Ada yang menghadap arah jalannya kereta, ada yang membelakangi. Pastinya akan berbalik, jika kereta berjalan menurun.

Hanya sekitar 5 menit, sampai di stasiun terakhir. Setelah turun dari kereta, kami masuk ke dalam museum cable car yang ada disitu.

Di museum terdapat replika kereta pertama, mesin penggerak kereta, dan foto-foto awal pembangunan dan pengembangan cable car. Dari catatan difoto, pembangunan cable car dimulai pada tahun 1900 an. Terus dirubah dan dikembangkan, sampai saat ini menjadi salah satu ikon wisata kota Wellington.

Stasiun terakhir cable car dan museumnya berada di kawasan Kelburn, yang merupakan bagian dari Botanical Garden Wellington. Botanical Garden adalah kebun raya kota Wellington. Seperti halnya kebun raya Bogor. Tanaman disini juga besar-besar, banyak cabangnya, dan berdaun rimbun. Di dalamnya juga terdapat zona permainan dan segala alat permainan luar ruangan buat anak-anak.

Kami menyusuri jalan setapak di dalam botanical garden. Kiri kanannya padang rumput terhampar. Dipotong rapih. Tumbuh beragam jenis pepohonan khas New Zealand. Ada yg seperti pohon sawo. Besar tapi tidak berbuah.

Kontur jalannya tidak rata. Pertama kami menanjak. Sampai di gedung observatorium, yang digunakan untuk meneropong planet atau benda luar angkasa. Tidak sebesar observatorium yang ada di Taman Ismail Marzuki, Cikini Jakarta. Tapi karena berada di ketinggian botanical garden, yang jauh dari keramaian, tentunya bagus untuk meneliti benda-benda luar angkasa.

Setelah itu kami menuruni anak tangga, cukup curam. Namun itu menjadi spot foto yang menarik dan indah. Begitu juga dibawahnya. Disediakan semacam jembatan, yang dikelilingi oleh bunga berwarna-warni. Tertiup angin kencang, semakin merekah dan merona. Membangkitkan suasana syahdu. Yang damai.

Kami terus menuruni jalan. Dan bertemu dengan bebek yang sedang berenang di kolam. Areanya diberi nama Duckpond Redevelopment. Disisi kolam juga beterbangan burung merpati.

Saya melihat wanita bule sedang selfie sendirian. Saya menawarkan untuk membantu memfotonya. Di tepi kolam. Bersama bebek dan burung-burung.

Casey, nama cewek bule itu. Turis dari Australia. Seorang diri. Tersenyum ketika saya foto.

Setelahnya, saya minta foto bersama dia. Berdua saja. Dia tersenyum. Saya juga. Cukuplah sampai kami berdua tersenyum. Dan saling melambaikan tangan. Goodbye..??

Fotonya cuma buat gagah-gagahan yang saya tunjukkan pada teman-teman. Bukti kelelakian. Setelahnya, saya hapus…????

Selesai di botanical garden, sebelum makan siang, kami singgah di warung kopi Siji. Milik orang Indonesia, Melvin namanya. Berdarah batak. Lokasinya di Tinakori Road. Berdekatan dengan rumah dinas Perdana Menteri New Zealand.

Warung kopinya sederhana dan tidak terlalu luas. Di dalam hanya ada lima set meja dan kursinya. Tapi warkop ini cukup laris. Kopinya dikirim dari Sumatera, Indonesia. Aroma harum kopinya sangat terasa. Saya menikmati banget, sajian kopi itu. Indonesian Taste.

Saya bangga pada Melvin. Yang sudah lebih dari 30 tahun tinggal di New Zealand. Pernah bekerja di berbagai perusahaan. Sampai akhirnya memilih membuka warung kopi. Baristanya anak muda. Orang bule. Kopinya dari tanah air. Ok, Mr. Melvin, anda telah menduniakan Indonesia.

Setelah makan siang, kami bergegas menuju Wellington College. Sekolah setingkat SMA. Muridnya semua laki-laki.

Waktu saya tanyakan kenapa begitu. Dijawab, bahwa sekolah ini sudah lama. Dari dulunya memang tidak ada murid perempuan. Dipertahankan sampai sekarang. Ada juga Wellington College khusus perempuan, serta Wellington College yang campuran lelaki dan perempuan. Letaknya terpisah dengan sekolah ini.

Lokasi Wellinton Collage berada di daerah Basin Reserve Dufferin St. Mount Victoria. Jalan masuk sekolah hanya bisa dilalui dua kendaraan berbeda arah. Tetapi begitu sampai di pekarangan sekolah, halamannya sangat luas.

Kepala sekolah Wellington College yang pertama, Mr. W.S Hamilton. Menjabat tahun 1867-1868. Sudah 150 tahun lebih usia sekolah ini.

Di samping bangunan yang jaraknya terpisah lumayan jauh, ada berbagai fasilitas out door. Beberapa lapangan olah raga. Taman yang ditumbuhi oleh pohon-pohon besar. Meneduhi deretan bangku di bawahnya.

Selain memiliki hall yang besar untuk berbagai kegiatan, ruangan-ruangan sekolah berupa gedung yang bertingkat. Ada 1700 siswa disini. Setiap kelasnya berisi maksimal 26 siswa. Sekilas saya teringat dengan bangunan Jakarta Intercultural School (JIS) di Jakarta. Baik luas mau pun fasilitas yang dimiliki sekolah ini hampir sama dengan JIS.

Disamping ruang kelas, banyak terdapat ruang praktik siswa. Ada ruang praktik sains, sosial, bahasa, matematika, bengkel bubut, desain grafis, dll.

Di New Zealand tidak ada sekolah khusus kejuruan (SMK). Buat siswa yang berminat teknis, dilayani oleh sekolah seperti di Wellington College ini. Ditambah kerjasama dengan berbagai perusahaan dalam melatih keterampilan siswa.

Meski pun sekolah favorit, Wellington College hanya bisa menerima siswa berdasarkan zonasinya. Termasuk anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus. Ada dalam kelas inklusi.

Tidak ada penjurusan program studi pada sekolah di New Zealand. Demikian juga di sekolah ini. Pelajaran wajib adalah IPA, Bahasa Inggris, dan Matematika. Selebihnya mata pelajaran pilihan. Setiap siswa akan dilayani sesuai dengan pelajaran pilihannya.

Selain bahasa Inggris, siswa wajib menguasai bahasa Maori dan salah satu bahasi asing lainnya. Bahasa Jerman, Perancis, Spanyol, dll.

Saya melihat proses belajar mata pelajaran sains fisika. Guru sedang mengajarkan materi Optik. Dari dasar, mulai pembiasan dan pemantulan cahaya. Pada lensa dan cermin.

Jika di Indonesia, materi ini diajarkan pada kelas awal, disini justru pada kelas terakhir. Mungkin, materi opitk dianggap perlu prerequisit terlebih dahulu. Hal ini bisa terjadi, karena setiap sekolah di New Zealand punya otonomi dalam mengimplementasikan dan mengembangkan kurikulum.

Usai touring lingkungan sekolah, kami berdiskusi dengan kepala sekolah dan senior manager sekolah. Kepala Sekolah, Gregor Fountain, menjelaskan nilai-nilai sekolah, Wellington College Values atau dikenal dengan sebutan Coll Values. Yaitu, Community, Oranga (Wellbeing), Leadership, dan Learning Together.

Values tersebut lebih bernuansa penumbuhan karakter pada warga sekolah. Dalam implementasinya, benar-benar diwujudkan pada program sekolah dan pembelajaran di kelas. Bukan hanya tertulis di depan pintu gerbang atau sekedar tercantum dalam Rencana Pembelajaran yang dibuat oleh guru. Semua aspek kegiatan di sekolah ini, mengandung implementasi Coll Values.

Tidak mudah menjadi guru di New Zealand. Selain harus memiliki sertifikat pendidik yang diapraisal setiap tahunnya, juga harus melewati seleksi yang ketat sebelum diberikan tugas menjadi guru. Bila sudah mengajar siswa, sudah dijamin profesionalismenya. Oleh sebab itu, tidak ada keraguan dalam menerapkan Coll Values. Akan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Selanjutnya, senior manajer Wellington Collage, Karl White, mempresentasikan tentang struktur organisasi. Di Wellington Collage, kepala sekolah dibantu oleh lima orang Deputy Principal. Kelima orang tersebut adalah, Associate Principal yang menjadi koordinator Deputy Principal, Deputy Curriculum, Teaching and Learning, System, Wellbeing, dan satu orang Business Manager yang menangani administrasi manajemen. Masing-masing deputy selain memiliki tanggungjawab sesuai bidangnya, juga bertanggungjawab pada satu jenjang kelas. Misalnya deputy curriculum, bertanggung jawab pada kelas paralel Year 13. Masing-masing mereka juga dibantu oleh Head of Department, yang mengurusi subjek materi pelajaran.

Seluruh materi ajar disusun dalam konten digital. Semua action plan, subjek materi, penilaian ada tersimpan di server sekolah. Bersifat terbuka. Bisa diakses dan direspon oleh siswa dan orangtua.

Melalui pendidikan yang tersistem seperti itu, sekolah bisa melakukan evaluasi terhadap tiga pertanyaan pokok. Apakah sudah efektif, akankah itu efekfif untuk masa depan, dan efektif buat siapakah..? Semuanya berfokus pada student centered.

Pulang dari kunjungan, saya lelah sekali. Diperjalanan cukup terhibur dengan guyonan kang Diding. Dia menelpon keluarganya pakai bahasa Sunda. Saya tergelak ketika dia ingin menghentikan pembicaraan itu. Dia bilang, “wait sahela..!” maksudnya mungkin adalah “tunggu sebentar…!” ????

Sampai hotel, saya langsung ambruk di tempat tidur. Biasanya kalau sudah seperti ini, saya butuh pijat refleksi. Itu kalau di depok. Kalau disini kumaha.

Daripada nanti mimpi ulekan terbang, bagusan membayangkan kelonan sama mamanya Hana. Kangen juga sih…

???

uchenk

You May also Like
Bangkit, Melewati Batas Mimpi
STUDI KE WELLINGTON 6
STUDI KE WELLINGTON 4
STUDI KE WELLINGTON 3
STUDI KE WELLINGTON 2

Leave Your Comments