STUDI KE WELLINGTON 4

PIN

Hari Keempat,

Malam hari tadi hujan cukup lebat di Wellington. Angin berhembus kencang. Kadang terdengar suara gemuruhnya.

Pagi hari saat membuka tirai, kaca jendela kamar hotel berembun. Cuaca masih kurang bersahabat. Dari indikator di HP, suhu di luar turun sampai 8°C. Hujan masih rintik.

Selain memakai setelan jas, kami membawa mantel atau jaket pelindung tambahan. Hari ini jadwal kami mengunjungi dua institusi pendidikan. Sesi pertama adalah mengunjungi kantor Kementerian Pendidikan New Zealand.

Kantor Ministry of Education New Zealand berada di Mataurangga House 33 Bowen St. Wellington. Dari hotel jaraknya 1,8 km. Beberapa blok ke arah utara. Letaknya berada di komplek gedung perkantoran, baik milik permerintah maupun swasta. Kendaraan yang membawa kami, hanya membutuhkan waktu 5 menit untuk mencapai kantor tersebut.

Sesampainya di kantor Ministry of Education, kami harus registrasi dan mendapat name tag sebagai visitor. Kemudian diarahkan masuk ke ruangan rapat di lantai dasar, yang berdekatan dengan meja resepsionis.

Kami diterima oleh miss Tara Thurlow-Rae, Senior Manager International Engagement. Miss Tara mempresentasikan secara umum tentang Pendidikan di New Zealand.

Dalam melaksanakan kebijakan pendidikan, Kementerian Pendidikan New Zealand dibantu oleh beberapa lembaga. Di antaranya adalah Education Review Office (ERO) dan Board of Trustee (BOT).

ERO tugasnya adalah melakukan review implementasi kebijakan pendidikan pada sekolah-sekolah di New Zealand. Kantor ERO ada di tiap wilayah regional New Zealand. Ada di wilayah bagian utara, pusat, dan Selatan.

Sedangkan BOT ada di setiap sekolah. Meski pun kebijakan umum pendidikan ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan, setiap sekolah di New Zealand memiliki otonomi dalam mengembangkan pendidikan dan pembelajarannya. Kewenangan otonomi itu diatur oleh BOT yang terdiri dari perwakilan guru, orangtua, dan murid.

Yang termasuk fungsi BOT adalah menentukan kepala sekolah, guru, manajemen sekolah, anggaran sekolah, dan bersama para guru mengembangkan kurikulum sekolah.

New Zealand saat ini menerapkan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa dimasa depan. Kompetensi lulusan ditandai dengan kemampuan berpikir kritis, penguasaan bahasa, simbol, dan teks (literasi), pengelolaan diri (karakter), membangun relasi (kolaborasi), serta kemampuan berpartisipasi dan berkontribusi.

Untuk kurikulum years 1 sd 13, mata pelajarannya terdiri dari bahasa Inggris, seni, olahraga kesehatan, pembelajaran bahasa dan budaya, matematika, sains, sosial sains, dan teknologi. Sementara isi kurikulum setiap mata pelajaran, berisi pencapaian kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa, dengan indikator pengetahuan konteks materi, pengembangan keterampilan praktik, pengembangan ide/gagasan, kemampuan mengintepretasikan dan mengkomunikasikan.

BOT bersama kepala sekolah dan para guru, mengembangkan, menterjemahkan dan mengimplemantasikan kurikulum tersebut sesuai kondisi dan kebutuhan siswa. Termasuk kurikulum lokal di wilayah regional sekolah berada.

Pada bagian berikutnya, kami juga menerima penjelasan tentang penyiapan dan pengadaan sarana dan prasarana (properti) pendidikan. William Jensen yang didampingi oleh Peter Dykes, dan Megan Gray mempresentasikan hal ini. Yang menarik adalah properti kebutuhan sekolah sudah dipetakan setiap tahunnya.

Dalam menentukan kebutuhan properti sekolah, William Jensen dkk mempelajari benar kebutuhan belajar siswa sesuai kompetensi di masa depan. Bukan sekedar pemenuhan properti. Kebutuhan properti untuk pembelajaran siswa di abad 21, telah dituntaskan pada tahun 2015.

Selesai paparan, kami melakukan foto bersama. Pada waktu menyusun formasi foto, pak Solikhin mendesak, kejejeran di sebelah Megan Gray. Memaksa benar kelihatannya pak Solikhin agar bisa berfoto, menempel dengan Megan Gray yang jelita. Menang banyak dia. Yang lain cuma melongo, gak kebagian…??

Setelah break, makan siang, kami melanjutkan sesi berikutnya. Mengunjungi ERO. Lokasi kantor ERO berada kawasan Lambton Quay. Dekat dari tempat kami makan. Hanya berjalan kaki beberapa menit, menyeberangi mall Lambton Square.

Jalan di sepanjang kawasan Lambton, dipenuhi dengan gedung-gedung dengan arsitektur yang indah dan artistik. Pohon-pohon besar membelah jalan yang berlawanan arah. Daunnya meneduhi kedua jalan tersebut.

Kawasan Lambton semakin cerah ceria, dengan warna-warni cat di bodi bis tingkat yang lewat. Serasi dengan warna daun dan bunga di pohon-pohon besar itu. Merasakan suatu keindahan, saya pun “take” beberapa foto disitu.

Di ERO, kami disambut oleh Senior ERO, Mark Evans yang didampingi oleh staf lainnya, Shamkar Ramasani, Shan Pather, dan Jason Timmins. Mark Evans memaparkan overview tentang ERO yang diselingi pertanyaan dari kami, dan juga penjelasan dari staf lainnya.

Saya sangat tertarik dengan ERO, karena selain tugasnya mereview sekolah, juga mendesain kebijakan pengembangan kualitas sekolah. Menurut pemahaman saya, seperti perpaduan tugas antara dinas pendidikan dan badan akreditasi nasional.

Selain itu, apa yang dikerjakan oleh ERO, sejalan dengan disiplin ilmu yang saya pelajari sewaktu menempuh pendidikan doktoral. Sebelum melakukan review, ERO menyusun kriteria kinerja sekolah, instrumen review kinerja sekolah, menentukan sekolah sasaran review, dan mempublikasikan hasil review. Secara fungsional, ERO lah yang menjaga kualitas sekolah-sekolah di New Zealand, menjadi tetap yang terbaik.

Seusai sesi kunjungan, kami masih punya waktu membeli souvenir buat oleh-oleh. Toko souvenir agak jauh. Kami harus memutari laut, menyusuri garis pantai untuk sampai di toko souvenir.

Di toko souvenir itu tersedia beragam pernak-pernik. Ada gantungan kunci, kaos, topi, bros, kalung, gelang, manik-manik, syal, tas, dll. Tentunya dengan ikon New Zealand atau suku Maori.

Saya mencari pernak-pernik untuk Hana, putri kecil saya. Saya pilih yang terbaik. Gak terasa, karena harganya dengan mata uang New Zealand. Satu buah souvenir, harganya gak sampai puluhan. Semuanya dimasukkan dalam keranjang belanja.

Giliran membayar, ternyata nilai belanjaannya lumayan besar. Gak pernah saya belanja oleh-oleh sebesar itu. Sebenarnya sayang juga. Kalau dibelikan beras, mungkin bisa dapat sepuluh karung.

Sebelum saya membayar, saya ciumi pernak-pernik itu. Ikhlas ditukar dengan sepuluh karung beras. Sambil membayangkan wajah Hana. Yang ceria. Berlari menyambut kepulangan saya nanti.

“Aku suka, aku suka..!” kata Hana. Merangkul, menciumi wajah saya. Mamanya Hana berdiri di depan pintu. Tersenyum. Memegang ulekan. Menyiapkan sambel kesukaan saya. Hmmm….

???

to be continued

uchenk

You May also Like
Bangkit, Melewati Batas Mimpi
STUDI KE WELLINGTON 6
STUDI KE WELLINGTON 5
STUDI KE WELLINGTON 3
STUDI KE WELLINGTON 2

Leave Your Comments