STUDI KE WELLINGTON 3

PIN

Pada hari ketiga, kami pergi mengunjungi sekolah. Kami berangkat pukul 09.00 pagi. Sesuai program, kami school visit ke West Park School. Sekolah dasar milik pemerintah (public school).

Letak West Park School berada di pinggiran kota Wellington. Setelah berkendaraan melewati kota, kami melintasi jalan lebar satu arah, mirip jalan tol (highway). Tapi tidak berbayar alias gratis.

Jalan dari arah kami sangat lancar. Karena berlawanan arah dengan orang yang akan bekerja menuju kota Wellington. Sedangkan arah sebaliknya, padat merayap. Hampir sama dengan gerakan urban masyarakat Jabodetabek, yang berbondong di pagi hari, bekerja menuju kota Jakarta.

West Park School berada di daerah Broderick Road, Johnsonville, Wellington. Di sepanjang jalan yang kami tempuh, selepas kota Wellington yang dikelilingi oleh laut, tampak kiri-kanan jalan adalah perbukitan yang rimbun. Yang ditumbuhi tanaman pinus. Jalannya juga menanjak, sampai dengan lokasi sekolah.

Posisi sekolah berada di punggung bukit. Tanahnya berundak. Bangunan sekolah, dinding dan lantainya terbuat dari kayu. Dicat dengan warna krem yang cerah.

Secara keseluruhan sekolah sangat luas. Selain bangunan sekolah yang terdiri dari tiga blok berjajar, ada aula besar (hall), ruang terbuka antar kelas, lapangan olahraga, taman bermain halang rintang, kebun sekolah, dan tempat parkir kendaraan. Semuanya bersih dan asri.

Kedatangan kami disambut oleh murid-murid West Park School. Ada sekitar 450 murid di sekolah ini. Dengan tertib mereka duduk di lantai hall.

Setelah nyanyian sambutan para murid, dan perkenalan diri oleh perwakilan murid dan kami, keakraban dilanjutkan dengan salam cara suku Maori. Para guru menyalami kami dengan saling melekatkan dahi, beradu kening. Tiba giliran saya, pas menerima salam dari ibu guru. Saya sudah menyiapkan kening. Menundukkan kepala. Eeh, ibu guru itu hanya menyodorkan tangan. Bersalaman. Saya tersipu. Salam ala suku Maori berlaku hanya untuk yang sejenis…??

Seusai acara seremonial, kami berbagi kelompok untuk mengunjungi kelas. Pada kesempatan pertama, saya bersama pak Sarwoko dan pak Ramdani berkunjung ke kelas senior. Kelas Year 6.

Luas kelasnya sama dengan dua ruang kelas SD Negeri di Jakarta, dijadikan satu. Sementara jumlah muridnya hanya 21 orang.

Seluruh ruangan dilambari karpet wool. Hanya ada beberapa kursi dan meja. Para murid duduk atau tiduran di lantai.

Pada saat kami masuk kelas, guru kelas Year 6, miss Jennifer Carey sedang memberikan tugas pada murid. Tugas yang ada di laptop atau alat device mereka. Berisi peta permainan labirin.

Setiap murid diminta menemukan rumah seseorang dan jangan sampai tertangkap oleh zombie. Setiap langkah ada kuncinya. Berupa kata, seperti kata simpati. Siswa harus bisa menjelaskan arti simpati serta langkah arah yang diambilnya. Guru kemudian menilai kemampuan anak, dalam menjelaskan permainan rumit yang menuntut logika bernalar itu.

Melihat belajar dengan model begitu, penerapan pembelajaran HOTS di negeri +62 rasanya memang tertinggal. Di sekolah ini sedari dini sudah diimplementasikan.

Pun pembelajarannya menggunakan media teknologi informasi. Semua materi ajar, respon, penilaian, termasuk tanggapan orangtua, ada dalam platform berbasis IT. Berbasis aplikasi.

Saking ingin tahunya pada sistem IT yang digunakan, pak Sarwoko sampai bertanya mendetail pada miss Jennifer, yang memang cantik itu. Saya memperhatikan, pandangan pak Sarwoko tidak beralih dari wajah rupawan Jennifer. Saat bertanya dan mendengarkan jawaban. Saya jadi curiga, pak Sarwoko ini tertarik pada sistemnya atau pada si Jennifer. Maklum sudah 4 hari jauh dari rumah…??

Di kesempatan kedua, kami berpindah. Mengunjungi kelas Year 3. Miss Grace Esquilant yang mengampu kelas, memberikan tugas pada murid-murid yang rata-rata berumur 7 tahun itu, membaca buku. Para murid dipersilahkan memilih beragam bahan cerita anak yang tersedia di sudut ruangan atau melihat/mendengar dari masing-masing alat devicenya.

Setelah membaca, semua murid menuliskan hasil bacaannya pada selembar kertas. Formatnya ada kotak beginning, middle, dan end. Bagaimana cerita di awal, ditengah, dan di akhir.

Oleh miss Grace, beberapa anak di tes langsung kemampuan membacanya. Mulai cara membaca, memahami isi bacaan, sampai menjawab beberapa pertanyaan yang terkait dengan isi bacaan. Hasilnya langsung diberi penilaian dengan kategori sangat memuaskan, memuaskan, kurang memuaskan.

Setiap anak juga memasukkan hasil bacaannya dalam “timetable.” banyak sekali yang sudah dibaca oleh anak. Marley, seorang anak perempuan berumur tujuh tahun, bahkan sudah membaca satu buku cerita sampai dengan chapter 40. Padahal buku pertama yang berisi 14 chapter, jumlah halamannya 90. Amazinglah pokoknya. Negeri Via Vallen pun ketinggalan dalam budaya literasi.

Sekali lagi, pak Sarwoko juga begitu intens bertanya pada miss Grace. Kayaknya sih belum pernah kena ulekan nih orang…??

Masih ada sedikit sisa waktu, kami pun berkunjung ke Mount Victoria. Dataran tinggi di kota Wellington. Dari puncaknya terlihat seluruh kota Wellington.

Disatu sisi nampak landasan bandara Wellington, yang berada ditepi laut berteluk. Sisi lainnya, tergambar pemukiman di lereng-lereng bukit. Dan pelabuhan beserta kapal-kapalnya. Indah sekali.

Angin bertiup sangat kencang. Laksana menerbangkan sukma. Melayangkan rasa. Nun di kejauhan. Di seberang lautan. Ada rindu yang terbawa.

Ning angin tak titepne
Roso kangen marang sliramu
Nadyan batin pingin ketemu
Amung biso nyawang fotomu…

???

uchenk

You May also Like
Bangkit, Melewati Batas Mimpi
STUDI KE WELLINGTON 6
STUDI KE WELLINGTON 5
STUDI KE WELLINGTON 4
STUDI KE WELLINGTON 2

Leave Your Comments