STUDI KE WELLINGTON 2

PIN

Hari Kedua

Kami sampai di Wellington sudah senja. Setelah makan malam, kami masih sempat mampir ke supermarket di depan hotel. Di seberang jalan.

Melintasi jalan di Wellingtong tidak boleh sembarangan. Harus mengikuti marka jalan. Meski pun posisi supermarket berhadapan dengan hotel, kami harus memutar jalan ke tempat penyeberangan. Pun menekan tanda sebelum menyebrang. Setelah lampu tanda orang berjalan hijau dan mobil berhenti, baru boleh melintas.

Tertib ketika di negeri orang. Belum tentu di negeri sendiri. Bisa jadi pagar pun dilompati…??

Supermarketnya besar sekali. Segala keperluan rumah tangga tersedia. Semacam Carrefour bila di Jakarta.

Kami windows shopping. Melihat-lihat, apa kiranya makanan dan minuman orang disini. Sayur dan buahnya segar. Buah terong, ukurannya rata-rata sebesar lengan orang dewasa. Warnanya ungu. Ranum mengkilat.

Oleh orang disini, mungkin terong dikukus. Dilaburi pasta, dan topping keju. Nama kerennya mungkin jadi, eggplant lasagna creamy…??

Atau malahan dimasak balado ala rumah makan Padang oleh mereka. Barangkali aja…??

Saya juga mengunjungi konter minuman beralkohol disatu sudut ruangan. Ratusan botol minuman berbagai merek tersedia berjejer. Harganya mahal, bahkan ada yang dijual permili liter. Bila 1 mili liter diteteskan ke lidah kita, harganya sama dengan jika kita membayar makan sepiring nasi, lauk rendang plus perkedel dan kerupuk.

Jadi benarlah kata emak, hindari minuman keras. Gak bikin kenyang…??

Di hari kedua, kami mengikuti seminar komparasi pendidikan di New Zealand. Narasumbernya tunggal, Dr. Martyn Reynolds dari lembaga Silvavaka Consulting.

Dr. Martyn adalah konsultan profesional. Pria berperawakan kurus tinggi ini telah berpengalaman mengajar selama 37 tahun. Usianya sudah lebih dari 60 tahun, namun masih energik dan memiliki gaya bertutur yang memikat. Selain bahasa Inggris, Dr. Martyn juga menguasai bahasa Maori. Suku asli di New Zealand.

Suku Maori populasinya di New Zealand sekitar 14%. Bagian terbesar dari penduduk di New Zealand adalah warga keturunan dari daratan Eropa. Namun demikian, penghargaan pemerintah terhadap suku Maori sangat tinggi.

Penggunaan bahasa dan budaya Maori melekat pada setiap penduduk. Sudah tidak lagi terlihat jelas perbedaan antara orang Maori dan penduduk lainnya. Semua berbaur. Demikian juga dengan pendidikan. Pemerintah memberikan perhatian dan fasilitas yang sangat baik pada pengembangan pendidikan suku Maori.

Kunci dari pendidikan di New Zealand adalah execellent, equity, autonomi, dan diversity. Execellent menempatkan pendidikan yang memiliki nilai-nilai (values), beretika, dan standar kualitas lulusan yang tinggi. Equity persamaan dalam pelayanan pendidikan. Autonomy, bahwa setiap sekolah mempunyai kebijakan sendiri dalam mengembangkan pendidikannya. Diversity, bahwa setiap praktik pendidikan menghargai perbedaan yang ada. Pembelajaran yang dilaksanakan disesuaikan dengan perbedaan pada setiap diri anak.

Guru di New Zealand memiliki tanggung jawab profesi yang tinggi. Dievaluasi dengan ketat oleh kepala sekolah dan lembaga otonomi. Yang utama adalah melayani setiap anak didik dengan segenap kemampuan dan hati. Teaching with think and heart. Untuk hal ini, saya akan tuliskan dalam artikel tersendiri.

Setelah selesai seminar, kami sempat sightseeing sebentar. Melihat-lihat kota Wellington.

Wellington ibukota negara New Zealand. Kota kecil dengan penduduk hanya sekitar 400 ribu orang. Karena ibukota negara, pekerjaan umumnya warga Wellington adalah pegawai atau wiraniaga.

Meski pun letaknya di tepi pantai, tidak ada nelayan disini. Kapal-kapal yang bersandar, adalah yacht milik orang kaya di Wellington. Sementara pertanian adanya jauh di pedalaman.

Di tepian pantai, rumah warga umumnya terbuat dari kayu. Mungkin karena New Zealand adalah daerah langganan gempa. Struktur kayu dipercaya lebih lentur terhadap gempa. Kayunya berkualitas, yang disusun secara apik. Menjadikan rumah kuat dan artistik.

Karena kontur tanah kota Wellingtong perbukitan, banyak rumah atau hotel yang berada di ketinggian. Bertebaran di lereng bukit. Bila malam hari bangunan dan rumah itu menyalakan lampu. Cahaya yang terpancar berpadu dengan panorama laut. Dilihat dari jendela hotel saya, sangat indah dan eksotik. Menggelorakan rasa romantisme. Menumbuhkan kerinduan.

Di sepanjang jalan kota Wellington yang sangat bersih dan asri, berderet kafe dan resto. Orang Wellingtong memang menikmati benar kotanya sebagai sarana leisure. Tempat bersantai.

Kiri kanan orang duduk mengobrol di kafe. Menikmati makanan dan minuman. Musik berdentum. Menghentak. Mereka bergurau, dan tertawa.

Upss, banyak juga tempat hiburan yang menampilkan tarian erotis, stripes. Ada perempuan di depan gedungnya. Berpakaian aduhai. Menggoda jiwa.

Saya usap mata, geleng-gelengkan kepala. Sebelum muncul wajah mamanya Hana, saya palingkan pandangan. Ngeloyor pergi. Menjauh dari tempat itu…

???

to be continued

uchenk

You May also Like
Bangkit, Melewati Batas Mimpi
STUDI KE WELLINGTON 6
STUDI KE WELLINGTON 5
STUDI KE WELLINGTON 4
STUDI KE WELLINGTON 3

Leave Your Comments