STUDI KE WELLINGTON 1

PIN

Hari pertama

Saya jarang bepergian ke luar negeri. Paling satu dua kali dalam setahun. Apalagi yang jaraknya jauh. Seperti saat ini.

Kali ini saya pergi bersama rombongan. Penugasan melalui BPSDM Prov. DKI Jakarta. Studi komparasi ke Wellington, New Zealand. Kami berangkat dengan pesawat Qantas, dari terminal 3 Bandara Soetta, pukul 20.10 wib.

Persiapan administrasi tentu utama. Paspor dinas, visa, dan surat tugas. Selain itu, persiapan yang heboh justru apa yang akan dibawa. Mulai dari minyak wangi, sampai sambel. Tanpa sambel, makanan rasanya anyep. Karena kuatir gak boleh, maka yang dibawa sambel instan dalam bentuk sachet saja.

Salah satu anggota rombongan, pak Diding, menjadi orang pertama yang menjadi korban security chek in. Minyak wangi yang dibawa melebihi kapasitas yang diperbolehkan. Di atas 100 ml.

Daripada rugi, maka minyak wangi tersebut, spontan disemprotkan ke sekujur tubuhnya dan teman-teman rombongan. Selebihnya, oleh pak Diding, diberikan ke petugas security perempuan. Penyerahan layaknya prosesi pinangan. Yang disoraki oleh teman-teman. Suit-suit…??

Saat boarding naik pesawat, ternyata ada pemeriksaan lagi. Semua tas dibuka. Giliran saya kena sweeping. Power bank yang saya bawa, tidak tertulis kapasitas dayanya. Tertutup oleh sponsor. Maklum hadiah dari suatu acara. Maka akan disita oleh petugas. Sebelum diambil, saya minta petugas itu berdoa bersama, agar kami selamat dalam penerbangan. Selesai doa, saya ikhlaskan power bank tersebut.

Penerbangan kami tidak langsung ke Wellington. Transit di bandara Sidney Australia. Kami menyempatkan sarapan. Di restoran cepat saji Mc D. Menu yang tersedia hanya burger dan kentang. Gak ada nasi. Agak kurang selera, maka sisa kentang ada yang dimasukkan ke dalam tas oleh pak Dasril. Barangkali nanti bisa buat camilan diperjalanan. Tipikal orang melayu, makan gak habis, dibungkus, bawa pulang. Gak mau rugi…??

Setelah melanjutkan perjalanan, kami tiba di bandara Wellingtong. Waktu setempat sekitar pukul 14.00. Waktu di Jakarta pukul 08.00. Beda waktu 6 jam. Total waktu tempuh kami 12 jam.

Nah disinilah momen yang paling seru. Saat melewati proses imigrasi New Zealand. Pak Sarwoko yang “sok tau” keluar lebih dulu. Tapi kemudian naas, karena seluruh tubuh dan tasnya “diendusi” oleh anjing pelacak. Semua bawaan pak Sarwoko diperiksa. Termasuk uang yang dibawa. Sambil berseloroh, kami menggumam. Anjing disini kenal duit…??

Tas dan bawaan kami juga diendusi oleh anjing pelacak. Gak masalah. Tapi begitu mengendus tasnya pak Dasril, kepala si guk guk langsung masuk ke dalam. Lalu ditarik oleh petugasnya. Ternyata guk guk menemukan kentang goreng sisa dari Mc D. Dilahap oleh guk guk. Pak Dasril mengerutu, merasa sudah menanggung malu, membungkus dan membawanya, malah dimakan oleh guk-guk. Guk-guk pun menatap pak Dasril. Menggonggong sekali dan menganggukkan kepala. Mengucapkan terima kasih. Pak Dasril nyengir…??

Sampai di hotel, kami cuma menaruh barang bawaan. Lalu diajak oleh pemandu kami, mbak Niely, makan malam di resto Thailand. Menunya familiar. Ada tom yam. Alhamdulillah ketemu nasi. Gak nendang rasanya makan, gak pake nasi. Kata pak Solikhin. Yang bodynya paling subur…??

Cuaca di Wellingtong cukup dingin. Suhu sekitar 14°C. Namun anginnya sangat kencang. Menusuk ke tulang. Kami semua memakai jaket.

Sewaktu mau kembali ke hotel, ada cewek bule berjalan dengan santainya. Tubuhnya dibalut dengan jas hangat. Eeh bawahnya hanya celana pendek ketat. Dari mulai bagian paha sampai tumit terbuka. Lheeer, putih bersih.

Pura-pura heran sambil geleng-geleng saya menatap terus bagian bawah cewek itu. Bluup gelap. Muncul wajah mamanya Hana menyeringai. Nunjukkin ulekan. Buru-buru saya masuk mobil. Istighfar…

???

to be continued

uchenk

You May also Like
Bangkit, Melewati Batas Mimpi
STUDI KE WELLINGTON 6
STUDI KE WELLINGTON 5
STUDI KE WELLINGTON 4
STUDI KE WELLINGTON 3

Leave Your Comments