DISRUPSI PENDIDIKAN

Kemajuan dan pemanfaatan teknologi merubah pola kerja dan usaha. Di tanah air Prof. Rhenald Kasali dalam bukunya, telah mempopulerkan istilah disrupsi.

Pemanfaatan jaringan internet telah menenggelamkan model bisnis lama yang mengandalkan interaksi langsung dengan pelanggan. Transportasi dan belanja online telah menggerus bisnis transportasi dan belanja tradisional. Revolusi mesin cetak, membuat banyak percetakan gulung tikar. Pelanggan bisa mencetak sendiri sesuai dengan kebutuhan. Tidak perlu dibatasi dengan volume. Perlu satu, bisa cetak satu.

Dalam satu kesempatan saya menyaksikan tontonan. Festival Disc Jockey (DJ) di lapangan Simpang Lima Semarang. Hampir seluruh penonton adalah anak muda milenial.

Mereka berjoget dengan asyik, berteriak, mengangkat tangan. Mengikuti irama permainan musik dari DJ. Semua genre musik dimainkan. Pop, rock, dangdut, hip hop dll. Apa saja jenis musiknya, jadi enak didengar dan menyentak. Membuat tubuh terus bergoyang.

Di panggung, hanya ada dua anak muda. Satu memainkan cakram musik. Satunya menyanyi atau memberi aba-aba semangat pada para penonton.

Saya tidak pernah menonton pertunjukkan musik DJ. Karena biasanya dilakukan di ruang tertutup. Di diskotik atau club. Sekarang musik DJ diselenggarakan di lapangan. Tempat terbuka.

Saya membayangkan, jika pertunjukkan ini jadi model, mungkin akan menyingkirkan pertunjukkan band. Sebab melalui DJ, permainan musik sangat variatif. Kualitas penerimaan suaranya juga bagus.

Bila pemusik hanya sekedar bisa memainkan alat musik pasti akan tergusur. Sepertinya orang lebih senang dengan permainan musik DJ ini, atau bahkan sekedar sajian musik organ tunggal, yang selama ini sudah menjamur. Maka, yang dibutuhkan adalah kreativitas penciptaan musik dan lagu. Bukan cuma pintar bermusik.

Begitu pun dengan guru. Bila cuma sekedar melaksanakan tugas tanpa kreativitas dan pengembangan, apalagi tanpa sentuhan kasih sayang, teknologi pembelajaran lebih menyiapkan kemudahan, keunggulan, dan variasi materi.

Munculnya konten materi dan komunitas pembelajaran online, seperti ruang guru, rumah belajar, dan Si Pintar, membuat anak lebih nyaman belajar dengan itu. Meninggalkan guru yang kuno dan kaku.

Itu sedang terjadi. Apakah anda sudah merasakan..?

??????

You May also Like
Bangkit, Melewati Batas Mimpi
STUDI KE WELLINGTON 6
STUDI KE WELLINGTON 5
STUDI KE WELLINGTON 4
STUDI KE WELLINGTON 3

Leave Your Comments